Kondisi yang paling sering kami temui
ERP berumur belasan tahun, jalan di server sendiri, vendornya sudah tidak aktif, dan tim IT punya satu aturan: jangan disentuh. Ini bukan kasus khusus — ini kondisi normal di perusahaan Indonesia yang sudah beroperasi lama.
Di antara sistem-sistem itu biasanya ada jembatan tak resmi: ekspor ke Excel, salin-tempel antar aplikasi, kirim lampiran lewat email. Di situlah waktu paling banyak hilang, dan di situ pula otomasi paling terasa.
Tiga jalur integrasi yang kami pakai
- Integrasi API — jalur paling bersih kalau sistemnya mendukung. Perubahan data mengalir dua arah dan bisa diaudit.
- Database connector — untuk sistem tanpa API. Akses read-only ke replika, bukan ke primary, supaya beban dan risiko tetap di sisi kami.
- RPA — jalan terakhir untuk sistem yang hanya bisa diakses lewat antarmuka. Rapuh terhadap perubahan UI, jadi selalu dipasangkan dengan monitoring dan jalur eskalasi ke manusia.
Contoh proses yang kami otomasi
- Pemrosesan invoice — ekstraksi, validasi terhadap PO, dan posting ke ERP
- Rekonsiliasi data antar sistem yang selama ini disambung manual
- Pemrosesan dokumen masuk: klasifikasi, ekstraksi, dan routing ke penanggung jawab
- Pelaporan berkala yang selama ini dirakit tangan dari beberapa sumber
- Triase permintaan masuk dari email atau pesan ke antrian yang tepat
Manusia tetap memegang keputusan
Setiap alur yang kami bangun punya jalur exception. Sistem menangani kasus rutin, dan mengangkat yang tidak biasa ke orang yang berwenang, lengkap dengan alasan kenapa ia diangkat.
Pada studi kasus pemrosesan invoice yang kami tangani, perubahan terbesarnya bukan mesin menggantikan tim finance — melainkan tim finance berhenti mengerjakan input rutin dan mulai menangani exception saja.
Durasi umum: 8–12 minggu. Scope final ditentukan setelah audit.